Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Ciuman Terakhir

Ciuman Terakhir Dia adalah kekasih nenekku Kekasih yang telah menemaninya selama 50 tahun atau lebih lama dari itu Tanpa bosan menguasai dirinya untuk berpaling Setia Dia adalah ayah dari ibuku Ayah yang telah rela memeras keringat untuk kehidupannya Tak pernah amarah menguasai raganya murka membabi buta Bersahaja Dia adalah kakek dari diriku Kakek yang selalu ku rindu untuk berjumpa dengannya Dengan tiada jenuh merajai nuraninya Penyabar Dingin Menetap mengendap dalam pipiku Menyebar merampas kuat dari ragaku Ciuman terakhit menjelma menjadi lemas menguasai Sedih Kelopak mata tak mampu membendung badai yang sebelumnya mengendap Basah membanjiri halaman wajah kusut sembraut Pilu melanda jiwa Sakit Merobek mimpi yang sedang ku renda dikala jumpa Disuguhi raga yang tak lagi bernyawa Tanpa nadi yang berdetak karna jantung berhenti memompa Tuhan Luaskan tempat dimana dia berasal dan manusia seluruhnya berasal Ampuni dosa

SURAT UNTUK SESEORANG

Gambar
SURAT UNTUK SESEORANG Teruntuk seseorang yang menyayangiku dalam diam Teruntuk seseorang yang mendukungku dalam doa Teruntuk seseorang yang menasihatiku dalam tatapan Teruntuk seseorang yang memperjuangkanku dalam kesibukan Untukmu seseorangku Seseorang yang jarang sekali berbincang Tapi aku tahu dalam diamnya tersimpan beribu doa untuk kebaikanku Dalam diamnya tersimpan berbagai harapan untuk kehidupanku Kau yang pernah membisikan sesuatu pada telingaku sesaat setelah aku lahir Kau yang pertamakali memperkenalkanku pada Dia yang maha sempurna Kau yang dalam sebuah hadits disebutkan sebagai seseorang yang harus aku muliakan setelah ibuku Meskipun kau dimuliakan setelah ibuku tetapi bukan berarti kau yang kedua, kau tetap yang pertama yang bersanding dengan ibuku Maafkan aku yang mungkin belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu Maafkan aku yang masih sering kali mengeluh dengan tugasku Maafkan aku yang sering kali lupa akan kewajibanku kepadamu Maa

Bergilir

Bergilir Aku berjalan mengiringi kepergiannya, terisak menyesakan. Dingin pipinya masih terasa nyata pada kulitku, pipinya yang memutih, matanya terpejam seperti sedang tertidur lelap, sangat lelap. Tak pernah tergambar ada kesulitan dalam hidupnya, seperti selalu berbahagia. Wajahnya bercahaya, cahaya yang sebelumnya mata ini tak pernah melihat akan hal itu. Sulit ku rasa untuk menerima kejadian 2 tahun silam. Sakit, sedih sangat memilukan, aku tak pernah membayangkan dia akan pergi secepat ini, pergi saat aku berada jauh dari sisinya, saat aku telah lama tak betatap muka dengannya. Dan sekarang –saat itu- saat aku pulang, aku disuguhi dengan raga yang tak lagi bernyawa berbaring di depan mata. Seketika itu juga otakku memunculkan beragam pertanyaan, nyatakah ini?, apakan aku sedang bermimpi?, apa yang terjadi? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang aku tak sanggup untuk menjawabnya. Semua kenangan yang telah aku lalui bersamanya tiba-tiba berseliweran silih berganti, dari satu ken

Dirimu Yang Baru

Dirimu Yang Baru Ini tentang kita yang telah lama tak bersua, meski hanya bertemu suara dalam dering telpon. Aku dan kamu seorang yang telah berubah dari sejak kita bertemu. Ya saat kita bertemu bertatap muka 1 tahun silam, pada hari dimana aku dan mereka kawan kita mengajakmu untuk berkumpul bersama, hanya untuk sekedar bertukar cerita saling berpandang mata untuk beberapa saat, dan kau menolak ajakan kami. Kau beralasan sedang tidak enak badan. Kini sejak saat itu, kita berjumpa kembali lewat pesan yang kau kirim kepadaku lewat sosial media, pesan itu berbunyi seperti ini “ini Hilma?” tentu saja ku jawab ya, karna memang benar namaku Hilma. Dan kini pesan itu membawa kita pada pesan-pesan selanjutnya, pesan yang memberikan kesan bagiku bahwa kau telah berubah, dirimu telah berubah. Dirimu yang dulu aku kenal sangat nakal, berandal ingusan yang suka nongkrong pinggir jalan gak karuan kini telah menjelma menjadi seorang laki-laki bijak yang aku tak pernah sangka. Luar Biasa...!